![]() |
| Ready to Get the victory!!!SUMATA |
Melihat kongres perempuan itu, kita tidak bisa melihatnya terpisah
dengan sejarah panjang perjuangan anti-kolonial Indonesia, khususnya
sumpah pemuda. Kongres perempuan I hanya terpisah dua bulan dari Sumpah
Pemuda. Semangat Sumpah Pemuda juga sangat mewarnai semangat Kongres
Perempuan. Kongres itu telah menjadi tonggak bersatunya kaum perempuan
dalam perjuangan anti-kolonial dan perjuangan pembebasan perempuan.
Bung Karno, yang berusaha mengapresiasi momen kongres itu, tidak
menyembunyikan harapannya agar kaum perempuan mengambil peran dalam
perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Soekarno-mengutip pejuang wanita
India, Sarojini Naidu, menyampaikan keharusan perempuan berada di
gerbang maut untuk membuat bangsa.
Pada tahun 1959, Bung Karno mengeluarkan dekrit yang menjadikan
tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Soekarno sendiri sejak awal
menyebut kongres perempuan itu sebagai “Kongres Ibu”. Tetapi, sejak orde
baru hingga sekarang, sejarah kongres perempuan menghilang dari makna
“Hari Ibu”.
(dikutip dari www.berdikarionline.com).
![]() |
| 22 Desember 2012 "langkah awal berjuang" |
![]() |
| Semangat Hari Ibu |
Tujuan peringatan tersebut ialah tidak lain karena mengingat perjuangan seorang perempuan lebih jelas seorang ibu terhadap keluarganya yang siap melayani kebutuhan anggota keluarga dengan tugas sehari-harinya sebagai ibu rumah tangga.
Selain refleksi perjuangan pada masa penjajahan, seorang ibu selalu menjadi bahan penindasan kaum kolonial. Maka dari itu, Harapan ke depan Siswi-siswi sekolah khususkan SMK jangan mau dijadikan budak oleh kaum-kaum kapitalis.
Dengan pendidikan yang layak dan dibekali dengan pendidikan kejuruan diharapkan mereka (siswi-siswi) dapat membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri atau untuk orang lain di negara Indonesia ini. (alx_english)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar